wahyu ady

Contoh Tulisan Berjalan Source: http://www.amronbadriza.com/2012/06/cara-membuat-teks-bergerak-di-blog.html#ixzz2KSKCwyYa

Pages

Minggu, 03 Februari 2013









PERAHU YANG MENYELAMATKAN

“MITSLUKA WAMITSLU AL-A’IMMATI MIN WALADIKA BA’DI MITSLU SAFIINATI NUUHIN. MAN ROKIBAHA NAJA WA MAN TAKHOLLAQO ‘ANHA GHORIQO”.
Artinya: Kamu (Ali Bin Abi Thalib) dan para Imam dari anak keturunanmu sesudahku yang silsilahnya dengan cara gilir gumanti tidak pernah putus sama sekali sampai kiamat nanti (kullu ma ghoba najmun thala’a najmun ila yaumil qiyamah). Ibarat perahu (Nabi) Nuh, siapa yang naik akan selamat dan siapa yang menolak akan tenggelam. Dan kini, zaman di munculkannya Al-Mahdi. Perahu itu sangat luar biasa besarnya mampu memuat hamba yang di kehendaki hingga ke seluruh pelosok dunia. Perahu itu tidak lain adalah Jama’ah Lil-Muqorrabien, tempat bersatu padunya rasa hati. Bagi hamba yang jihadunnafsinya rela mempersiapkan diri dengan ilmu dan laku dengan Tuhan Sendiri yang senantiasa memadangi hingga di tarik fadhol dan rahmat-Nya menjadi hamba yang di dekatkan kepada Diri-Nya. (Guru Washitah)





JARAN NAFAS ANGIN

Jaran (Kuda) yang satu ini adalah lambang nafsu yang tidak lain wujudnya jiwa raga yang telah dengan rela dan patuh di kendalikan untuk mencapai tujuan dan cita-cita. Dengan angin yang tiap kali masuk (nafas) dalam dada di barengi dengan ingatnya rasa hati pada Al-Ghaib-Nya Dzat Yang Mutlak Wujud-Nya yang telah di terima dari izinnya Guru yang hak menjadi Al-Hadi. Maka menjadilah Daya dan Kekuatan Illahi Sendiri, sehingga sebagai nafsu telah sama sekali tidak berani ngaku. Dengan lapak (alas tempat duduk) syahadat tarekat, syahadat yang mendudukkan hamba menyaksikan Ada dan Wujud Tuhan-Nya Dzat Yang Al-Ghaib yang senantiasa di ingat-ingatnya. Syahadat (yang kedua) yang mendudukkan hamba menyaksikan Nur Muhammad-Nya yang selalu di hayati dalam rasa hati. Dengan songgo wedhi (tempat mancatnya kaki), shodakoh jariyah. Dengan begitu maka si pengendara yang tak lain adalah hati nurani, roh dan rasa menjadi nyata dengan Cahaya Diri-Nya. (Guru Washitah)








TAUHID YANG DIMISALKAN SAMUDERA

Tauhid yang menunjuk pada keberadaan satu-satu-Nya Dzat yang mesti Al-Ghaib, nyata-nyata Mutlak Wujud-Nya. Karena tidak ada pada bacaan dan juga tidak ada pada tulisan, untuk mengenal dan mengetahui ilmu-Nya harus dengan mencari hamba yang di tugasi menunjuki (Al-Hadi). Meskipun antaramu dan hamba yang di tugaskan Illahi harus dengan menyeberangi lautan api. Semua makhluk (termasuk manusia) dengan keberadaan Diri Illahi adalah bagaikan ikan dalam samudera yang selalu meliputi. Oleh karena itu amat sangat dekat sekali, yang bernafas pun tidak, kalaulah tidak dengan-Nya. apalagi hingga  berdaya dan bertenaga. Oleh karena itu apabila mata hati ini buta tidak mengetahui keberadaan-Nya Dzat Yang Al-Ghaib ini saat mati juga buta, di akhirat lebih buta dan lebih sesat yang sejauh-jauhnya. (Guru Washitah)







0 komentar:

Poskan Komentar